Senin, 22 April 2013

Analisis Ragam Bahasa Prokem


Analisis Ragam Bahasa Alay

Yohanes Oktovianus Rogan


Descartes, seorang filsuf mazhab rasionalisme pernah mengemukankan tesisnya tentang dua substansi yang ada pada manusia. Ia menyebut kedua substansi itu sebagai pemikiran dan keluasan. Menurutnya, kedua substansi ini tidak dapat saling memengaruhi sebab keduanya berada secara an sich-eksklusif. Substansi pemikiran yang ia maksudkan adalah aspek rasio yang bersifat sangat rohani sekaligus abstrak, namun yang juga menjadi roh bagi manusia. Sedangkan, aspek keluasan yang ia bicarakan merujuk pada tubuh, materi yang bersifat jasmaniah. Dapat disimpulkan dari tesisnya ini bahwa baik pemikiran maupun keluasan, masing-masing mengenakan sejumlah esensi pada manusia sesuai sifat-sifat mereka yang khas. Dari pemikiran, manusia mewarisi esensi berakal, berada (berpikir), mengerti, dan berbicara. Sementara itu, dari keluasan manusia mewarisi esensi berbadan, material, dan berinteraksi.
Salah satu esensi manusia yang mau diangkat dan didalami adalah berbicara. Sama seperti kata adalah ungkapan verbal dari pengertian, maka berbicara menjadi ungkapan lahiriah dari pemikiran. Berbicara sekaligus mengandaikan bahasa. Itu artinya, terdapat hubungan esensial antara hakikat manusia dan bahasa. Bahasa menjadi identitas dan kekhasan manusia sebab manusia berpikir dan bersosialisasi. Oleh karena pemahaman ini, maka harus berterima pula kenyataan bahwa bahasa yang digunakan harus dipahami oleh semua pengguna bahasa. Bahasa haruslah menjadi simbol yang mengungkapkan makna tertentu atas konvensi bersama. Tanpa memiliki makna yang dipahami secara komunal, bahasa tidak akan sanggup menjalankan fungsinya lagi sebagai media komunikasi yang valid.
Oleh karena bahasa melekat erat dengan manusia, maka perkembangan dan kekhasan bahasa mengikuti perkembangan dan kekhasan manusia. Perkembangan dan kekhasan manusia itu sendiri masih dapat dipilah-pilah seturut kriteria tertentu. Beberapa kriteria seperti ras dan etnik atau kelompok umur inilah yang menjadi dasar dan alasan pengklasifikasian individu-individu ke dalam kelompok-kelompok sosial tertentu. Setiap kelompok sosial yang terbentuk mencerminkan kekhasan yang tidak dimiliki kelompok sosial lainnya.
Perkembangan dan penggunaan ragam bahasa prokem remaja Indonesia yang  dikenal dengan sebutan ragam bahasa alay menjadi kekhasan yang tampak dalam kelompok sosialnya. Ragam bahasa yang berkembang di Indonesia pada sekitar empat dasawarsa terakhir ini semakin marak digunakan dari angkatan ke angkatan dan karena itu, ia juga terus mengalami perubahan dan penyesuaian dari waktu ke waktu.
Ketika ragam bahasa alay dipertemukan dengan beberapa sifat bahasa manusia, maka kekhasan ragam bahasa ini akan semakin tampak. Di satu sisi, sama seperti ragam bahasa lainnya, ragam bahasa alay ini juga bersifat sistematik. Untuk dapat memahami sifat sistematik ragam bahasa alay, perlu diperhatikan sungguh bahwa ragam bahasa alay adalah suatu ragam bahasa nonstandar. Oleh karena itu, tidak terdapat suatu sistematika formal yang digunakan sebagai dasar penerimaan dan penggolongan kelompok kata tertentu ke dalam ragam bahasa alay. Sifat sistematik ragam bahasa ini bukan menyangkut ada dan tidaknya hukum dan peraturan yang mengatur penggolongan tersebut. Sifat sistematik ini berkaitan dengan kebiasaan dan logika dari para pengguna ragam bahasa alay. Pada kelompok kata tertentu, terjadi penghilangan fonem awal: sudah menjadi udah, memang menjadi emang, dan saja menjadi aja. Pada kelompok kata lain, dibuat penggantian diftong "au", "ai" dengan "o" dan "e". Sebagai contoh kalau menjadi kalo, santai menjadi sante, dan sampai menjadi sampe. Juga penggunaan akhiran "-in" untuk menggantikan akhiran "-kan", seperti bacakan menjadi bacain, mainkan menjadi mainin, dan belikan menjadi beliin.
Ragam bahasa alay juga memiliki sifat bahasa yang arbitrer atau mana suka. Atas dasar konvensi bersama, kata-kata yang berterima sebagai kelompok ragam bahasa alay digunakan secara umum. Namun, hal itu tidak berarti kelompok kata yang berterima itu juga secara mutlak diterima dalam setiap kebudayaan. Kalimat yang dibentuk dari kelompok kata h4ny4 C1nT4 l4hH yg Gag q m1L1ki, dipahami dan digunakan sebagai kalimat valid oleh para pengguna ragam bahasa prokem ini, namun kalimat tersebut belum tentu dipahami oleh kelompok yang tidak menggunakan ragam bahas tersebut. Selain kedua sifat ini, masih ada sifat manusiawi dan dinamis bahasa yang juga dimiliki ragam bahasa alay. Sudah tentu bahwa ragam bahasa ini diciptakan dan digunakan untuk mempertenggangkan segala hal yang berkaitan dengan manusia. Oleh karena itu, perkembangan ragam bahasa alay juga mengikuti perkembangan kelompok penggunanya.  
Akan tetapi, di sisi lain kekhasan dari ragam bahasa alay tampak dalam sifatnya yang temporal dan rahasia. Sifat temporal ragam bahasa alay ditunjukkan lewat penggunaan istilah-istilah baru dan menghilangnya penggunaan kelompok-kelompok kata tertentu tanpa melalui sebuah proses yang teratur dan berkesinambungan. Kemunculan istilah-istilah baru yang digunakan, semata-mata hanya karena trend yang sedang berkembang dalam suatu periodesasi tertentu. Penggunaan istilah gaul dalam jejaring sosial terus berkembang dan berganti mengikuti trend. Pada tahun 2011 lalu terdapat sebutan “Mas bro” yang dipopulerkan oleh Ramzi dalam film “Pesantren dan Rock n’ Roll”, namun akhir-akhir ini, banyak orang lebih suka menggunakan kalimat “Terus gw harus bilang, wow gitu?” dengan jawaban “Emang iya? Terus masalah buat lo?” yang dipopulerkan oleh Soimah, penyanyi solo dan presenter televisi. Masih juga ada kata “cenat-cenut”, yang berarti sedang merasakan sakit, yang dipopulerkan oleh boyband Smash. Sebelum judul lagu Cenat-Cenut ini populer, kalangan remaja pernah menggunakan istilah “hiks” atau “aww” untuk memberikan ekspresi sakit. Dapat dilihat juga bahwa istilah-istilah baru yang menjadi trend dalam ragam bahasa alay ini lebih cenderung berasal dari para artis dan kelompok remaja yang berdomisili di Pulau Jawa. Rupanya adanya tendensi presepsi kaum muda pada umumnya yang memandang istilah-istilah gaul dialek Jawa lebih bergengsi dibanding bahasa daerah sendiri.   
Sifat khas lain yang dimiliki ragam bahasa alay ini adalah rahasia. Dikatakan bersifat rahasia bukan karena ragam bahasa ini digunakan untuk menyampaikan maksud tersembunyi dari para penuturnya atau juga bukan karena banyaknya sandi yang digunakan dalam setiap kelompok katanya. Ragam bahasa alay bersifat rahasia oleh karena keadaan psikologis yang bertumbuh dalam diri remaja pengguna ragam bahasa ini. Dalam jenjang umur masa remaja, kecenderungan untuk menghadirkan kelompok-kelompok yang khas sangat kuat terjadi. Sebagai konsekuensi lanjut, kecenderungan ini ditampakkan dalam bahasa yang digunakan. Keinginan untuk membentuk kelompok yang khas menyebabkan remaja menciptakan bahasa rahasia yang eksklusif bagi kelompoknya itu.
Sekalipun di satu sisi ragam bahasa ini menjadi kekayaan, kekhasan sekaligus media pengekspresian diri kaula muda, namun ancaman tereduksinya bahasa indonesia sampai pada tingkat minimnya kemampuan berbahasa dengan baik juga semakin besar. Terhadap kenyataan berkembangnya ragam bahasa prokem ini, berbagai pihak ditantang untuk semakin kritis dalam mengafirmasi penggunaannya yang terus meluas sebab kekuatan bahasa indonesia ada pada sifatnya yang mempersatukan.
Bahan bacaan:
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_gaul. Diakses tanggal 25 Maret 2013. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar